Selamat Datang di 'Rumah Biru'

Tempatku Berbagi Cerita, Tempatku berbagi Ceria, Tempatku berbagi Cinta, Tempatku berbagi Cita
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2012

Ardhitiya Pratama dan Elisabeth Clarissa Alvita menyandang Putra Putri Lawu 2012


Sejak pukul 18.30 WIB Hotel Tamansari yang terletak di batas kota Karanganyar sudah dikunjungi warga masyarakat dari segenap penjuru yang ingin menyaksikan Grand Final Pemilihan Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar tahun 2012. Langkah mereka banyak yang terhenti di halaman ataupun di pintu masuk.. karena tidak biasanya acara tersebut diselenggarakan di Hotel.. Tahun-tahun sebelumnya acara Grand Final Putra Putri Lawu dilaksanakan di Pendapa Rumah Dinas Bupati atau GOR Mini Nyi Ageng Karang Karanganyar..tempat-tempat yang biasa dijamah masyarakat... Sedangkan Hotel adalah sebuat tempat yang dipandang sangat eksklusif, tidak semua orang terbiasa masuk hotel.. Namun berkat informasi dari panitia, akhirnya masyarakat tidak segan melangkahkan kakinya ke Hotel...Gratis menyaksikan Grand Final Pemilihan Putra Putri Lawu pada tanggal 16 Juli 2012 jam 19.00 sampai selesai....
 

Sambil menunggu tamu undangan, acara diawali dengan tampilan Home Band dari Warna pimpinan Lembut Mulyono, dengan menyuguhkan penyanyi dan lagu-lagu yang cukup akrab di telinga kawula muda..

Tepat pukul 20.00 secara resmi acara dibuka dengan laporan Pnitia oleh Kepala Dinas Pariwisata da Kebudayaan Kabupaten Karanganyar Drs. Sugiyarto, M.Hum, dilanjutkan Sambutan Bupati oleh Wakil Bupati Karanganyar Bapak Paryono, SH, MH.







Selanjutnya adalah fashion show dari 20 finalis yang membawakan rancangan batik dari sponsor..
Melihat lenggak-lenggok putra putri lawu yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng..penonton pun mulai heboh.. sedangkan Dewan Yuri yang terdiri dari
KRAT. Bapak Djuritno Yudohadinagoro, Bapak Endi Latif, S.Sos.dan  Ibu Noer Ames serta Yuri Kehormatan Bapak Sumanto SH (Ketua DPRD Kab. Karanganyar) dan Ibu Paryono (Isteri Wakil Bupati Karanganyar) mulai menilai penampilan mereka..



Setelah penampilan berbusana batik, dilanjutkan dengan penampilan berbusana jawa.. sekaligus menjawab pertanyaan2 yang disiapkan panitia... Sebetulnya pertanyaannya ringan-ringan, tapi karna jatah waktu menjawab hanya 30 detik tiap peserta masih saja ada yang grogi dan blank.. meskipun sebelumnya mereka telah menjalani karantina dan pembekalan materi..sehingga sering mengundang senyum.. Istimewanya penonton sangat simpatik.. baik jawaban salah atau benar selalu saja ada tepuk tangan penuh semangat dan dukungan.. sehingga menambah kekuatan mental bagi peserta....


Hal yang menarik juga adalah selingan tampilan Girl Band dari Jakarta "Pink Ping"... grup vokal yang terdiri dari 5 gadis belia yang cantik-cantik dan unyu-unyu..kata anak muda sekarang...sehingga sidang Yuri tak dirasakan lama... 




Maka inilah hasil akhir dari Pemilihah Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar tahun 2012....

Putra Lawu I : Ardhytiya Pratama S (Jaten)
Putra Lawu II : Rifky Pratama Putra (Karanganyar)
Putra Lawu III: Rovli Adi Nugroho (Colomadu)
Putra Lawu Intelegensia : Irwanto (Karanganyar)
Putra Lawu Favorit : Bambang Sriyanto (Matesih)


Putri Lawu I : Elisabeth Clarissa Alvita M (Jaten)
Putri Lawu II: Rusmiyati (Jumapolo)
Putri Lawu III: Euodia Callisata Tantama (Colomadu)
Putri Lawu Intelegensia : Fransisca Ornelia Sudarno Putri ( Jaten)
Putri Lawu Favorit : Hana Deviyanova (Kebakkramat)









Selamat buat pemenang dan selamat juga buat penyelenggara (alumni Putra Putri Lawu) ..

Kamis, 05 Juli 2012

Finalis Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar 2012

Halo kawula muda Kranganyar.....
Berdasarkan penilaian tes tertulis dan tes wawancara yang diselenggarakan pada tanggal 3 dan 4 Juli 2012 bertempat di Aula Rumah Dinas Wakil Bupati Karanganyar,  Dewan Juri Pemilihan Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar Tahub 2012 yang terdiri dari KRAT Djuritno Yudophadinagoro, Endi Latief, S.Sos dan Noor Ames, memutuskan 10 besar (finalis) Pemilihan Putra Putri Lawu Duta Wisata Kabupaten Karanganyar tahun 2012 sebagai berikut :

Finalis Putri:
1. Elisabeth Clarissa Alvita M,  (Perum RC Palur, Ngringo, Jaten, Karanganyar)
2. Fransisca Ornelia Sudarno P (Perum Josroyo Indah, Jaten, Karanganyar)
3. Risma Devi Andhita (Sidodadi, Matesih, Karanganyar)
4. Sylvana Nur Cahyantika (Tegalasri, Bejen, Karanganyar)
5. Italia Oki Wulansari (Jungke, Karanganyar)
6. Nurinda Dwi Anjani (Perum Lalung Permai Karanganyar)
7. Euodia Callista Tantama (Perum Baturan Indah Colomadu Karanganyar)
8. Dinanda Krisna Saputri (Perum BGI, Jaten, Karanganyar)
9. Rusmiyati (Pencil, Lemahbang, Jumapolo, Karanganyar)
10. Hana Deviyanova (Gedangan, Nangsri, Kebakkramat, Karanganyat)

Finalis Putra:
1. Idris Efendi (Sekarpetak, Mojosongo, Mojogedang, Karanganyar)
2. Joko Susilo  (Jetis, Alastuwo, Kebakkramat, Karanganyar)
4. Rifky Pratama Putra (Badranasri, Cangakan, Karanganyar)
5. Rimbawan Setiadi (Buran, Tasikmadu Karanganyar)
6. Andhitiya Pratama S (Tegal, Jaten, Karanganyar)
7. Rovli Adi Nugroho (Bolon, Colomadu. Karanganyar)
8. Irwanto (Mrangkang, Karanganyar)
9. Fataqul Ikhsan Dewantara (Titang, Tegalgede, Karanganyar)
10. Bambang Sriyanto (Sidodadi, Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar)

Selanjutnya mereka akan menjalani karantina untuk memperoleh pembekalan materi kepariwisataan, kepribadian, tabble manner, beauty class, dll..yang akan berlangsung di Obyek Wisata Sondokoro Tasikmadu maupun IHS Colomadu.... dan... malam Grand Final akan dilangsungkan di Hotel Tamansari pada tanggal 16 Juli 2012 jam 19.00...

Selamat ya.... sampai ketemu di Grand Final......

Senin, 07 November 2011

SEJARAH KABUPATEN KARANGANYAR




Kabupaten Karanganyar adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Karanganyar, terletak 14 km sebelah timur Kota Surakarta (Solo).
Letak Kabupaten Karanganyar berbatasan denga Kabupaten Sragen di utara, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Wonogiri di selatan, serta Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah barat.
Kabupaten Karanganyar juga memiliki sebuah kecamatan enklave, yaotu daerah/bagian yang tidak berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Karanganyar tetapi terletak di antara Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharko dan Kota Surakarta.

Pada tahun 1847 Karanganyar merupakan satu wilayah Kawedanan dari Kadipaten Mangkunegaran di samping Kawedanan Wonogiri dan Malangjiwan, masing-masing dipimpin oleh seorang Bupati Anom atau Wedana Gunung, dibantu oleh Panewu Gunung yang membawahi pemerintahan Kapanewon (Kecamatan). Panewu Gunung dibantu oleh Mantri Gunung melakukan koordinasi pemerintahan desa.

Pada tahun 1903 dibentuk Kabupaten Anom Kota Mangkunegaran, meliputi wilayah kota Sala bagian utara, Wanareja, Kaliyoso, dan Colomadu.
Reorganisasi wilayah Kadipaten Mangkunegaran dilakukan dengan Kaputusan Sri Mangkunegara VII tentang pembentukan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar. Pada tanggal 18 Nopember 1917 KGPAA Mangkunegara VII di Kabupaten Karanganyar melantik KRT Hardjohasmoro sebagai Bupati Karanganyar.
Dalam pelantikan disampaikan pidato pengarahan oleh KGPAA Mangkunegaran VII antara lain:
Seorang Bupati harus benar-benar menjalankan tugas dengan baik dan loyal kepada tugas pemerintahan
  1. Perlu mempunyai etos kerja yang produktif (kawekelan)
  2. Berperilaku baik sehingga tidak mencemarkan nama keluarga dan jabatan
  3. Mempertahankan kebutuhan pangan para petani/rakyat desa
  4. Menciptakan ketentraman dan ketenangan wilayah
Dalam kurun waktu tahun 1917 sampai dengan tahun 1930 di kabupaten Karanganyar ada tiga orang Bupati yang memerintah, yaitu
  1. KRMT Hardjohasmoro
  2. RMT Sarwoko Mangoenkoesoemo
  3. RMT Darko Soegondo
Berdasarkan Rijksblaad Mangkoenegaran tahun 1923 no.10 Kabupaten Karanganyar dibagi menjadi tiga wilayah Kawedanan 14 Wilayah Kapanewon (Kecamatan), yaitu :
Kawedanan:
  1. Kawedanan Karanganyar
  2. Kawedanan Karangpandan
  3. Kawedanan Jumapolo
Kapanewon
  1. Kapanewon Karanganyar
  2. Kapanewon Tasikmadu
  3. Kapanewon Jaten
  4. Kapanewon Kebakkramat
  5. Kapanewon Mojogedang
  6. Kapanewon Karangpandan
  7. Kapanewon Matesih
  8. Kapanewon Tawangmangu
  9. Kapanewon Ngargoyoso
  10. Kapanewon Kerjo
  11. Kapanewon Jumapolo
  12. Kapanewon Tugu
  13. Kapanewon Jatipuro
  14. Kapanewon Jatiyoso
Pada tahun 1930 Kabupaten Karanganyar dihapuskan dan secara administratif dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Kota Mangkunegaran dengan maksud agar pengelolaan terhadap perkebunan-perkebunan milik Mangkunegaran lebih efisien dan efektif.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), daerah Karanganyar masih disebutkan sebagai Kawedanan, bagian dari Kabupaten Kota Mangkunegaran, hanya jabatan dan wilayahnya diganti dengan istilah/bahasa Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Presiden RI mengeluarkan Piagam Kedudukan yang menetapkan Sri Susuhunan Paku Buwono XII dan Sri Mangkunegara VIII, masing-masing sebagai Kepala Daerah Kasunanan Surakarta dan Kepala Daerah Mangkunegaran.
Pada akhir tahun 1945 di Surakarta timbul gerakan anti Swapraja yang berkembang hingga Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, Wonogiri dan Kota Surakarta menyatakan lepas dari Pemerintah Swapraja. Hal ini mendapat tanggapan dari Pemerintah Pusat dengan terbitnya Penetapan Pemerintah No. 16/SD Tahun 1946 yang antara lain menetapkan daerah-daerah tersebut tergabung dalam Karesidenan surakarta yang dipimpin oleh seorang Residen.
Selanjutnya Daerah Kabupaten Karanganyar dibagi atas:
1.   Kawedanan Wonoharjo, mencakup wilayah :
  • Kecamatan Gondangrejo (gabungan dari bekas Kapanewon Bonorejo dan Kaliyoso)
  • Kecamatan Colomadu
2.   Kawedanan Karanganyar, mencakup wilayah:
  • Kecamatan Karanganyar
  • Kecamatan Tasikmadu
  • Kecamatan Jaten
  • Kecamatan Kebakkramat
  • Kecamatan Mojogedang
3. Kawedanan Karangpandan, mencakup wilayah:
  • Kecamatan Karangpandan
  • Kecamatan Matesih
  • Kecamatan Tawangmangu
  • Kecamatan Ngargoyoso
  • Kecamatan Kerjo
  • Kecamatan Jenawi
4.   Kawedanan Jumapolo, mencakup wilayah:
  • Kecamatan Jumapolo
  • Kecamatan Jumantono
  • Kecamatan Jatiyoso
  • Kecamatan Jatipuro
Setelah reformasi dan pemberlakuan otonomi daerah, wilayah Kawedanan yang telah berubah sebagai wilayah Pembantu Bupati ditiadakan, sehingga sampai sekarang Kabupaten Karanganyar memiliki 17 wilayah administratif Kecamatan, yang terdiri dari 177 Desa/Kelurahan

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 1998 tentang Hari Jadi Kabupaten Karanganyar, telah ditetapkan tanggal 18 November 1917 sebagai Hari Jadi Kabupaten Karanganyar, dan diperingati setiap tahunnya oleh segenap masyarakat Kabupaten Karanganyar di manapun berada.




Jumat, 04 November 2011

Puasa Arafah......



Puasa Arafah adalah puasa yang  jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.

Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”
(HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Allah akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. Oleh karena itu, hari setelah hari Arofah –yaitu hari Idul Adha- adalah hari ‘ied bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang melaksanakan haji dan yang tidak melaksanakannya sama-sama akan mendapatkan pembebasan dari api neraka dan ampunan pada hari Arofah.”
(Lathoif Al Ma’arif, 482)

Mengenai keutamaan puasa Arafah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim).

Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah adalah di antara jalan untuk mendapatkan pengampunan di hari Arafah. Hanya sehari puasa, bisa mendapatkan pengampunan dosa untuk dua tahun. Luar biasa fadhilahnya ...

Hari Arafah pun merupakan waktu mustajabnya do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ
قَدِيرٌ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)”.”
(HR. Tirmidzi, hasan)

Insya Allah hari Arafah di tahun ini akan jatuh pada tanggal 5 November 2011. Semoga kita termasuk orang yang dimudahkan oleh Allah untuk melakukan puasa tersebut dan meraih keutamaan di dalamnya.

Hanya Allah yang memberi taufik.

@ Ummul Hamam, Riyadh-KSA
3 Dzulhijjah 1432 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

Jumat, 26 Agustus 2011

Ucapan Selamat Hari Raya........


Sudah menjadi tradisi kalau lebaran datang, saling kirim ucapan selamat lebaran, Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dan sejenisnya. Kalau dulu banyak yang kirim kartu Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, sekarang diganti dengan MMS, kartu lebaran digital, sms Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, dan sebagainya.

Ucapan Selamat Saat Hari Raya Idul Fitri yang syar’i

Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

Taqabbalallahu minna waminka

“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.”

Hukum Ucapan Selamat Hari Raya

Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.

Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.

Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.

Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya

Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.

Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”

Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”

Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.

Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”

Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.

Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.

Ibnu Turkumani dalam Dzail (baca:tambahan) beliau untuk Sunan Kubro yang berjudul al Jauhar al Naqiyyi ‘ala Sunan al Baihaqi juz 3 hal 320 mengatakan, “Dalam masalah ini terdapat hadits dengan kualitas jayyid yang tidak disebutkan oleh al Baihaqi. Itulah hadits Muhammad bin Ziyad, “Aku bersama dengan Abu Umamah al Bahili dan sejumlah sahabat Nabi yang lain. Jika mereka pulang dari shalat Ied sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain taqabbalallahu minna wa minka”. Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah berkualitas jayyid.

Al Albani dalam Tamam al Minnah 355-356 setelah membawakan perkataan Ibnu Turkumani dalam al Jauhar al Naqiyy mengatakan, “Ibnu Turkumani tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan atsar tersebut. Sedangkan Suyuthi mengatakan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh Zahir dengan sanad yang hasan dari Muhammad bin Ziyad al Alhani, “Aku melihat Abu Umamah al Bahili mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada kawan-kawannya”.

Kesimpulannya atsar di atas adalah riwayat yang sahih berdasarkan penilaian tiga pakar hadits, Imam Ahmad, Ibnu Turkumani dan Suyuthi.

Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.

Penjelasan Para Ulama tentang Ucapan Selamat Ied

Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak? Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.

Jawaban Ibnu Taimiyyah, “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya. Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut.

Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului untuk mengucapkan selamat hari raya namun jika ada yang memberi ucapan selamat hari raya kepadaku maka pasti akan aku jawab”. Beliau mengatakan demikian karena menjawab penghormatan hukumnya wajib sedangkan memulai mengucapkan selamat hari raya bukanlah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan pula hal yang terlarang.

“Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”. Perkataan Ibnu Taimiyyah ini ada di Majmu Fatawa jilid 24 hal 233 dan di Fatawa Kubro jilid 2 hal 371.

Ibnu Dhawayan al Hanbali dalam Manar al Sabil jilid 1 hal 100 mengatakan, “Tidaklah mengapa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka. Demikianlah yang ditegaskan dalam mazhab Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Ucapan tersebut tidaklah mengapa diucapkan. Para penduduk Syam telah meriwayatkan atsar tersebut dari Abu Umamah dan dari Watsilah bin al Asqa’”.

Syaikh Shalih al Balihi dalam kitabnya al Salsabil fi Ma’rifati al Dalil jilid 1 hal 209 mengatakan setelah membahas shalat dua hari raya mengatakan, “Boleh hukumnya mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan ucapan yang beredar di masyarakat asalkan tidak ada unsur yang terlarang dalam ucapan tersebut”.

Setelah itu beliau menyebutkan hadits Watsilah dan Abu Umamah ditambah ucapan Imam Ahmad. Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya ucapan selamat hari raya adalah riwayat yang berisi ucapan para malaikat kepada Adam setelah Adam berhaji, “Moga jadi haji mabrur”. Dalil yang lain adalah ucapan selamat yang diberikan oleh Thalhah kepada Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubat Kaab.

Demikian pula, ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ubay bin Kaab, “Moga ilmu itu menjadi suatu yang mudah bagimu” dalam sebuah kisah yang terkenal”.

Kesimpulannya, yang benar ucapan selamat dengan taqabbalallahu minna wa minka adalah perbuatan yang disyariatkan karena telah dipraktekkan oleh salaf, terlebih lagi para shahabat.

Sumber: http://ustadzaris.com/ucapan-selamat-hari-raya

Rabu, 17 Agustus 2011

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA


Setiap tanggal 17 Agustus seluruh Bangsa Indonesia memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan Republik tercinta sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peristiwa yang telah sekian tahun lamanya, bagi para pendiri bangsa tentulah amat membekas dalam ingatan, karena taruhan jiwa dan raga, harta, darah dan nyawa telah dilakukan demi terwujudnya Kemerdekaan...terlepas dari kungkungan penjajahan..
Kini peristiwa itu tentu tidaklah dialami oleh generasi sekarang, namun suasana kebatinan yang terkandung dalam Pernyataan Kemerdekaan Republik Indonesia terus menggema di seluruh dada Bangsa ini.. mengalir di seluruh darah jiwa ini..

Berikut beberapa gambar peristiwa bersejarah yang terekam kala itu....



Detik-Detik Proklamasi














Naskah Proklamasi


Pengibaran Sang Saka Merah Putih

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Dirgahayu Bangsaku... Semoga semangat Proklamasi senantiasa terpateri dalam jiwa dan mengalir dalam darah setiap bangsa Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita para pendiri negara ini, yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Jaga, pertahankan dan tumbuhkan selalu rasa Nasionalisme dan Kebangsaan dengan senantiasa menjunjung nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Perjuangan di masa kini bukan lagi berperang mengangkat senjata melawan musuh, namun berperang melawan hawa nafsu dengan senjata iman, menghadapi musuh utama berupa kemalasan, kebodohan, kemiskinan dan ketidak adilan....

Secara aplikatif, seorang motivator Indonesia.. Mario Teguh memberikan gambaran tentang Nasionalisme yang harus ditumbuhkan di masa sekarang :

"Nasionalisme adalah belajar
untuk menjadi pribadi Indonesia yang mampu,
bekerja untuk menjadi ahli,
menjujurkan diri agar dipercayakan tugas yang penting,
tidak istirahat selama ada saudaranya yang sakit dan kekurangan,
meneladankan keluhuran budi,
membangun pengaruh tanpa pangkat,
dan menyusun kekuasaan tanpa jabatan
untuk mencegah kejahatan menjadi pemimpin dan penguasa
yang mengkerontangkan hati dan tubuh rakyat"


Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan dan hidayah kepada Bangsa Indonesia dalam melanjutkan perjuangan menuju cita-cita Kemerdekaannya... Amin....


Senin, 15 Agustus 2011

SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH

A . Penggunaan dan arti warna Merah Putih di bumi Indonesia
Dalam sejarah Indonesia terbukti, bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pada tahun 1292 oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari (1222-1292). Sejarah itu disebut dalam tulisan bahasa Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.
Prapanca di dalam buku karangannya Negara Kertagama menceriterakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Menurut Prapanca, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran itu bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah maja yang berwarna merah. Atas dasar uraian itu, bahwa dalam kerajaan Majapahit warna merah dan putih merupakan warna yang dimuliakan.

Dalam suatu kitab tembo alam Minangkabau yang disalin pada tahun 1840 dari kitab yang lebih tua terdapat gambar bendera alam Minangkabau, berwarna Merah Putih Hitam. Bendera ini merupakan pusaka peninggalan jaman kerajaan Melayu-Minangkabau dalam abad ke 14, ketika Maharaja Adityawarman memerintah (1340-1347).
Warna Merah = warna hulubalang (yang menjalankan perintah)
Warna Putih = warna agama (alim ulama)
Warna Hitam = warna adapti Minangkabau (penghulu adat)

Warna merah putih dikenal pula dengan sebutan warna Gula Kelapa. Warna Merah Putih disebut Gula Kepala tidak berarti “Merah” lambang gula dan “Putih” lambang buah nyiur yang telah dikupas. Di Kraton Solo terdapat pusaka berbentuk bemdera Merah Putih peninggalan Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang menurunkan raja-raja Jawa.
Dalam babat tanah Jawa yang bernama babad Mentawis (Jilid II hal 123) disebutkan bahwa Ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 1613-1645.- Juga di bagian lain dari kepulauan Indonesia terdapat bendera yang berwarna Merah Putih, misalnya di Aceh, Palembang, Maluku dan sebagainya meskipun sering dicampuri gambar-gambar lain.
Pada umumnya warna Merah Putih merupakan lambang keberanian, kewiraan sedangkan warna Putih merupakan lambang kesucian.

B. Merah Putih dalam ABAD XX
Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali dalam abad XX sebagai lambang kemerdekaan ialah di benua Eropa.
Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya. Tujuan perhimpunan Indonesia Merdeka semboyan itu juga digunakan untuk nama majalah yang diterbitkan.
Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan buku peringatan 1908-1923 untuk memperingati hidup perkumpulan itu selama 15 tahun di Eropa. Kulit buku peringatan itu bergambar bendera Merah Putih kepala banteng.
Dalam tahun 1927 lahirlah di kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI mengibarkan bendera Merah Putih kepala banteng.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 berkibarlah untuk pertama kalinya bendera ,Merah Putih sebagai bandera kebangsaan yaitu dalam Konggers Indonesia Muda di Jakarta. Sejak itu berkibarlah bendera kebangsaan Merah Putih di seluruh kepulauan Indonesia.

C. Sang Saka Merah Putih di bumi Indonesia Merdeka
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta bertempat di Pegangsaan Timur 56 (JL.Proklamasi) Jakarta, atas nama bangsa Indonesia. Sesaat kemudian bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya di bumi Indonesia Merdeka.

a. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 mengadakan sidang yang pertama dan menetapkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

b. Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, ditetapkan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan pula bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Dengan demikian, sejak ditetapkannya UUD 1945 , SangMerah Putih merupakan bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan ditetapkannya UUD 1945 dan bendera kebangsaan Sang Merah Putih, maka serentak seluruh rakyat Indonesia dan pemuda Indonesia, menegakkan, mengibarkan dan mempertahankan Sang Merah Putih di bumi Indonesia. Pertempuran-pertempuran dengan serdadu kolonial Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berkobar di seluruh Indonesia. Ribuan rakyat dan pemuda Indonesia gugur sebagai pahlawan bangsa mempertahankan kemerdekaan Sang Merah Putih. Karena pengorbanan mereka kini Sang Merah Putih tegak berkibar dibumi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berlandaskan Pancasila.

c Sang Merah Putih dikibarkan pada Hari Proklamasi tanggal 17 Agustus 45 di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka. Bendera Pusaka itu selalu dikibarkan di tiang yang tingginya 17 m di depan Istana Merdeka Jakarta pada tiap perayaan peringatan Hari Prokalamasi Kemerdekaan. Mulai tahun 1969 Bendera Pusaka itu tidak lagi dapat dikibarkan karena sudah tua. Sebagai gantinya dikibarkan duplikatnya yang dibuat dari sutera alam Indonesia.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bendera Pusaka tidak pernah jatuh ke tangan musuh, meskipun tentara kolonial Belanda menduduki Ibukota Negara Republik Indonesia.