Selamat Datang di 'Rumah Biru'

Tempatku Berbagi Cerita, Tempatku berbagi Ceria, Tempatku berbagi Cinta, Tempatku berbagi Cita

Senin, 23 Januari 2012

GONG - XI - FA - CAI - 2563


Tahun Baru Imlek atau biasa disebut juga Tahun Baru Cina, merupakan salah satu perayaan terpenting bagi orang Tionghoa.
Perayaan tahun baru imlek biasanya dimulai di hari pertama bulan pertama pada penanggalan Tionghoa dan akan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas atau pada saat bulan purnama. Malam tahun baru imlek juga dikenal dengan Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun".

Berdasarkan astrologi tradisional Tionghoa, pada 2012 adalah Tahun Baru Cina yang ke-2563. Setiap tahun, dalam astrologi Cina, diwakili satu shio yang memimpin 12 shio lain. Berdasarkan perhitungan astrologi, tahun ini disebut tahun naga air yang hanya muncul saban 60 tahun.

Menurut kepercayaan Tionghoa kuno, shio adalah zodiak yang memakai jenis hewan untuk melambangkan tahun, bulan, dan waktu. Pada dasarnya, ke-12 jenis hewan ini melambangkan 12 cabang bumi dan 10 batang tahun berupa planet di jagat raya.

Kemudian shio itu digabung dengan lima unsur alam, yakni logam, air, kayu, tanah, dan api, yang membentuk periode 60 tahun. Dalam bahasa Indonesia, istilah shio diambil dari dialek Hokkian, yakni sheshio. Ke-12 shio yang termasuk di dalamnya adalah tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi

Pada tahun 2012 ini, tahun baru Cina 2563 jatuh pada tanggal 23 januari 2012, nah untuk anda yang merayakannya tentu anda tidak akan melewatkan moment spesial tersebut dengan begitu saja, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi moment berharga tersebut dengan berbagai hal yang bermanfaat , dan salah satunya adalah dengan memberikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2012 melalui pesan singkat atau SMS untuk anda berikan kepada keluarga, sanak saudara, kerabat maupun teman anda yang merayakannya,,

Berikut adalah beberapa Ucapan Sms Imlek 2012:

GONG XI FA CAI 2563. Semoga Imlek kali ini membawa rejeki yang berlimpah dan juga kesehatan untuk kita semua.

Selamat tahun baru Imlek 2563. Gong Xi Fa Cai – Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang.

Gong Xi..! Gong Xi..! Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi! Gong Xi Fa Cai 2563! Semoga senantiasa diberi kesehatan dan kesuksesan,,,

Kami Sekeluarga Mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek "GONG XI FAT CHAI 2563". Semoga Sukses Selalu.

Happy Chinese New Year. May better luck come into us in this new year. Gong xi. Gong xi. Gong xi fa cai 2563.

Wishing You A Happy and Prosperous Chinese New Year! Gong Xi Fa Cai 2563.

Gong Xi Fa Cai !! Xin Nian Kuai Le.Zhù Ni Shenti Jiànkäng, Quanjiä Xingfu,Wànshì Ruyì

Gong Xi..! Gong Xi..! Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi! Gong Xi Fa Cai 2563!


Sumber: dari sanasini......


Rabu, 11 Januari 2012

Malam ini milik kita


Malam ini milik kita

Tlah tertulis dalam catatan masa lalu tentang perjumpaan
Bahwa antara kita memang sudah dipertautkan
Apa yang terjadi bukanlah suatu kebetulan
Atau pun rekayasa lantaran nafsu impian semata
Maka kemanakah kaki-kaki ini hendak langkahkan
ketika tangan-tangan dingin kita saling berpegangan
Dan mata kita mengisyaratkan dahaga
Lalu tubuh kita saling berpelukan
Lebur dalam aroma birahi tak berkesudahan
Harum napas cinta menyatu dalam lembutnya kecupan
Menjelma dalam ciuman panjang
Dititipkannya rindu pada gemuruhnya ombak lautan
Ditautkannya pada benang-benang cakrawala
Dibisikkannya pada kembara musim penghujan
Bahwa malam ini milik kita

11-01-2012
13:15

Minggu, 01 Januari 2012

Surya 1 Januari.....



Surya 1 Januari....


Ketika sang surya 1 Januari menyapa

Kembali harapan itu menggelora

Janji-janji tersusun dalam rencana

Berbinar mata menatap penuh asa

Meski kutahu waktu bukan milik kita


Ketika sang surya 1 Januari menyapa

Ingin kuusap kesedihan yang tersimpan di balik mata

Dan kujanjikan kesetiaan cinta karnaNya semata


Lalu ada canda dan tawa ria

Di sela-sela baluran doa

Tak ada lagi tangis kecewa

Meniti langkah penuh bahagia

Tuhan, betapa indahnya

Andai semua itu jadi nyata



1 Januari 2012

22 th wedding anniversary...


Kamis, 22 Desember 2011

Ibu... dalam pandangan Islam

Islam mengajarkan bahwa kaum ibu merupakan fihak yang sangat istimewa dan tinggi derajatnya. Oleh karena itu kita sangat akrab dengan hadits yang menjelaskan keharusan seorang sahabat agar memprioritaskan berbuat baik kepada ibunya. Bahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutkan keharusan tersebut sebanyak tiga kali sebelum beliau akhirnya juga menganjurkan sahabat tadi agar berbuat baik kepada ayahnya. Jadi ibaratnya keharusan menghormati dan berbuat baik seorang anak kepada ibunya sepatutnya lebih banyak tiga kali lipat daripada penghormatan dan perilaku baiknya terhadap sang ayah.

أَخْبَرَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَقَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ibumu." Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: "Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kita juga sangat akrab dengan hadits yang menyebutkan beberapa dosa besar dimana salah satunya ialah durhaka kepada kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَعَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِوَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ

Dari Anas ia berkata: Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ditanya mengenai dosa-dosa besar, maka beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang-tua, membunuh jiwa dan kesaksian palsu.” (HR. Bukhari)

Bahkan di dalam hadits lainnya disebutkan bahwa kedua orang-tua merupakan faktor yang sangat besar mempengaruhi apakah seseorang bakal menuju ke surga ataukah ke neraka. Artinya, perilaku baik seseorang kepada kedua orang-tuanya bakal memperbesar kemungkinannya berakhir di dalam rahmat Allah dan surga-Nya. Sedangkan kedurhakaannya kepada kedua orang-tua bakal memperbesar kemungkinan hidupnya berakhir di dalam murka Allah dan neraka-Nya.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِمَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا قَالَ هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ

Dari Abi Umamah ia berkata: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orang-tua atas anak mereka?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Keduanya (merupakan) surgamu dan nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Hal ini sejalan dengan hadits berikut ini: Dari Abdullah Ibnu Amar al-'Ash Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR. Tirmidzi)

Namun yang menarik ialah ditemukannya hadits yang secara khusus mengungkapkan haramnya durhaka kepada sang ibu. Sedangkan hal ini tidak kita temukan dalam kaitan dengan larangan berlaku durhaka kepada sang ayah. Sudah barang tentu ini tidak berarti bahwa berlaku durhaka kepada fihak ayah dibenarkan. Yang jelas dengan adanya larangan khusus berlaku durhaka kepada fihak ibu cuma menunjukkan betapa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi martabat kaum ibu.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ

Bersabda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Allah melarang kalian durhaka kepada ibu kalian.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain kita juga dapati bagaimana Islam menyuruh menghormati ibu sekalipun ia bukan orang beriman seperti hadits yang diriwayatkan oleh Asma puteri sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut ini:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْقَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَقُلْتُ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

Asma binti Abu Bakar berkata: “Telah datang kepadaku ibuku dan dia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Maka aku datang kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam meminta fatwa beliau. Aku bertanya kepada beliau: ”Telah datang kepadaku ibuku sedangkan ia punya suatu keperluan. Apakah aku penuhi permintaan ibuku itu?” Maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Iya, penuhilah permintaan ibumu itu.” (HR. Bukhari)

Mengapa kaum ibu sedemikian diutamakan? Karena mereka adalah fihak yang sejak masih mengandung anak saja sudah merasakan beban memikul tanggung-jawab membesarkan anak-anaknya. Mereka adalah pendamping, penyayang, pengasuh dan pengajar pertama dan utama bagi seorang anak. Ibu adalah fihak yang paling banyak direpotkan oleh anak semenjak mereka masih kecil. Begitu lahir anak menuntut air susu ibunya. Keinginan minum ASI seringkali tidak pandang waktu. Bisa jadi seorang ibu di tengah malam ”terpaksa” bangun mengorbankan waktu istirahatnya demi menyusui buah hatinya.

Seorang ibu juga direpotkan ketika anaknya ngompol dan buang air besar. Ibulah yang biasanya harus mencebok dan membersihkan anaknya. Semakin ikhlas seorang ibu mengerjakan semua aktifitas tadi maka semakin melekatlah si anak kepada dirinya. Di balik segala kerepotan tadi sesungguhnya terjalinlah ikatan hati yang semakin kokoh antara ibu dan anak. Itulah sebabnya ketika seseorang sudah dewasa sekalipun, tatkala dalam kesepian tidak jarang rasa rindu akan belaian tangan ibunya yang penuh kasih sayang terkenang kembali.

Dalam pepatah Arab ada ungkapan berbunyi Al-Ummu madrasah (ibu adalah sekolah). Benar, saudaraku. Seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Ibulah yang pertama kali mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak. Apalagi di zaman penuh fitnah seperti sekarang dimana al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran/ perang budaya/ perang ideologi) datang menyerbu rumah-rumah kaum muslimin. Serbuan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa dari televisi, internet, facebook, buku bacaan, komik, majalah, nyanyian, musik, pergaulan bahkan dari sekolah formal...! Maka kehadiran seorang ibu yang memiliki wawasan pengetahuan luas menjadi laksana penjaga benteng terakhir bagi anak-anaknya. Ibulah yang bertugas membentengi, memfilter dan mengarahkan anak-anak menghadapi berbagai serbuan perang budaya tadi.

Di masa kita dewasa ini saat mana faham ateisme, materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme begitu dominan mewarnai kehidupan masyarakat dunia, maka kehadiran seorang ibu sendirian mendampingi anak-anaknya kadang dirasa kurang memadai. Sehingga kerjasama antara ayah-mukmin dan ibu-mukminah sangat diperlukan. Dalam dunia modern anak-anak kita sangat perlu pengarahan yang sangat kokoh dan kompak dari kedua orang-tuanya sekaligus untuk meng-counter serangan musuh-musuh Islam yang pengaruh buruknya semakin hari semakin hegemonik.

Betapapun, seorang ayah tidak mungkin diharapkan untuk terus-menerus berada di rumah karena tuntutan mencari ma’isyah (penghasilan) bagi anak-isterinya. Oleh karenanya kehadiran dan keaktifan peran seorang ibu di rumah mendampingi anak-anaknya menjadi sangat strategis. Oleh karenanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyetarakan hadir dan aktifnya seorang ibu mendampingi anak-anaknya di rumah dengan aktifitas jihad fi sabilillah yang dilakukan oleh kaum pria di medan perang menghadapi musuh-musuh Allah.

عن أنس، رضي الله عنه، قال: جئن النساء إلى رسول اللهصلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله، ذهب الرجالبالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك بهعمل المجاهدين في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:"من قعد -أو كلمة نحوها -منكن في بيتها فإنها تدركعمل المجاهدينفي سبيل الله".

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR. Al-Bazzar)

Wahai kaum ibu, ikhlaslah dan sabarlah menjaga pos jihad kalian. Didiklah generasi masa depan calon-calon mujahidin dan mujahidat fii sabilillah harapan ummat....!

Sumber : http://www.eramuslim.com/


Dua Bocah Mungil - Kahlil Gibran


Seorang pangeran berdiri di atas balkon istananya, berpidato kepada orang banyak yang diundang untuk acara itu dan berkata, “Izinkan aku menyampaikan selamat kepadamu sekalian serta kepada Negara yang beruntung ini atas kelahiran seorang pangeran baru yang akan meneruskan nama keluargaku yang mulia dan yang akan membuat kalian pantas berbangga. Ia adalah penerus keturunan yang agung serta mulia dan kepadanyalah tergantung masa depan dunia ini. Bernyanyilah dan bergembiralah !”

Suara orang banyak penuh suka cita dan rasa syukur, membanjiri langit dengan nyanyian gembira, menyambut tirani baru yang akan memasang belenggu penindasan pada leher-leher mereka dengan memerintah kaum lemah dengan kekuasaan yang lalim, menindas tubuh mereka serta membunuh jiwa mereka.

Untuk takdir buruk seperti itu orang-orang bernyanyi serta minum-minum gembira demi kesehatan Emir yang baru.

Di saat yang sama, lahir pula seorang anak lain dalam kerajaan itu. Sementara orang banyak sedang memulakan yang kuat dan merendahkan diri sendiri dengan memenjatkan pujian bagi seorang calon penguasa yang tak terbatas kekuasaannya, para malaikat sorga tengah menangisi seoang wanita sakit yang sedang melamun. Ia tinggal di gubug kosong dan terbaring di sampingnya sesosok bayi yang baru lahir, dibungkus kain lusuh, kelaparan setengah mati. Ia seorang isteri miskin yang ditelantarkan oleh kemanusiaan; suaminya telah jatuh ke dalam perangkap kematian yang dipasang oleh penindasan sang pangeran, meninggalkan seorang wanita sendirian, kepada siapa Tuhan telah memberinya sesosok teman mungil pada malam itu, mencegahnya bekerja dan mempertahankan hidup.

Sementara orang banyak bubar dan suasana kembali hening, wanita yang nelangsa ini memangku bayinya, lalu menatap wajahnya dan meangis, seolah-plah ia ingin membaptis putranya itu dengan air matanya. Dan dengan suara lemahkarena lapar ia berkata pada putranya, “Mengapakah engkau meninggalkan dunia ruhani dan dating untuk berbagi pahit-nya kehidupan di bumi ini dengan Ibu? Mengapakah engku meninggalkan para malaikat serta langit yang luas dan dating ke negiri manusia yang penuh dengan penderitaan, penindasan dan kenelangsaan ? Ibu tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan padamu selain air mata; akankah engkau sehat minum air mata ketimbang susu? Ibu tidak mempunyai pakaian dari sutera untukmu; akankah lengan Ibu yang telanjang dan gemetar memberimu kehangatan ? Hewan-hewan kecil makan rumput di padang dan pulang dengan aman ke kandang mereka; burung-burung kecil makan benih dan tidur tenang di anatara dahan-dahan pohon. Tetapi engkau, sayangku, tidak memiliki apa-apa selain Ibu yang pengasih tetapi melarat !”

Pada saat itulah awan menyingkir dari hadapan bulan yang sinarnya menembus lewat jeruji jendela rumah miskin itu dan menerangi dua sosok mayat berpelukan…

(Kahlil Gibran dalam “Tangisan dan Tawa”)

Minggu, 18 Desember 2011

Si Bodoh - Si Otak - Si Mati

Ini kisah 3 orang bersahabat yang bernama Si Bodoh, Si Otak dan Si Mati. Mereka selalu bersama, namun suatu hari salah satu dari mereka belum kelihatan juga....

Si Bodoh: Hey, Otak… Si Mati mana yah, kok nggak dateng-dateng..?
Si Otak : Aku juga ndak tau..
Si Bodoh: Ya sudah, kalo gitu, kita cari bareng-bareng aja, yuk…!
Si Otak : Aduuh..sebentar, ya, Bodoh…aku kebelet pipis, nih.. mendingan kamu aja yang cari Si Mati..
Si Bodoh: Ya udah, deh..sana, ke toilet dulu, sebelum ngompol..!

Akhirnya Si Bodoh pun mencari Si Mati tanpa henti sampai akhirnya pada saat Si Bodoh menyeberangi jalan raya, dia hampir tertabrak oleh sebuah truk tangki yang besar.

Supir Truk: Hei, kamu ini BODOH, ya…??!
Si Bodoh : Iya, pak.. nama saya Bodoh, bapak bisa tahu dari mana?
Supir Truk: Kamu ini cari MATI ya???!!
Si Bodoh : Iya pak, bapak betul sekali, saya mau cari teman saya yang bernama Mati
Supir Truk: Woi....!!! OTAK kamu itu di mana, siihh…..??????!!!!!!
Si Bodoh : Ooo..Otak? Dia lagi di toilet, pak…ada urusan apa sama Otak, pak?
Supir Truk: .......thuing....thuing........@%$&*!$@#^^&$#*&!!!

Top of Form

Bottom of Form


Senin, 12 Desember 2011

Cintaku Jauh di Pulau - Chairil Anwar


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946